Suatu hari, Abu Nawas mendengar kabar bahwa Raja sedang mengadakan sebuah kontes untuk mencari orang yang paling cerdas di kerajaannya. Abu Nawas yang selalu penuh dengan kecerdikan dan kejenakaan, merasa tertantang untuk mengikuti kontes tersebut.

 

Dengan semangat yang membara, Abu Nawas pun pergi ke istana raja. Di sana, ia melihat banyak orang yang berlomba-lomba menunjukkan kecerdasan mereka. Ada yang bermain catur dengan sangat mahir, ada yang menghafal buku-buku tebal, dan ada pula yang menghitung dengan cepat.

 

Namun, Abu Nawas memiliki cara yang unik untuk menunjukkan kecerdasannya. Ia berpura-pura bodoh dan bertingkah aneh di depan raja dan para penonton. Ia berjalan dengan langkah yang aneh, berbicara dengan logat yang aneh, dan melakukan gerakan yang aneh.

 

Raja dan para penonton awalnya terkejut dan merasa Abu Nawas benar-benar bodoh. Namun, Abu Nawas dengan cerdik menggunakan tingkah lakunya untuk menyampaikan pesan-pesan yang dalam dan mengkritik kebijakan raja dengan cara yang lucu.

 

Setiap kali Abu Nawas berkata-kata, raja dan para penonton terbahak-bahak. Namun, di balik kejenakaannya, Abu Nawas menyampaikan pesan-pesan yang membuat raja dan para penonton berpikir dan merenung.

 

Akhirnya, raja menyadari bahwa Abu Nawas adalah orang yang paling cerdas di antara semua peserta kontes. Ia mengakui kecerdasan Abu Nawas dan memberinya hadiah yang besar.

 

Dengan cerita ini, Abu Nawas berhasil membuktikan bahwa kecerdasan tidak hanya terletak pada pengetahuan dan keterampilan teknis, tetapi juga pada kecerdikan dalam berpikir dan menyampaikan pesan dengan cara yang unik dan menghibur.